|
Senin, 15 Agustus 2011, Bagian Akademik IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mengadakan Kuliah Umum bagi Mahasiswa Baru, acara tersebut dilaksanakan di gedung Auditorium Prof. Dr. Chatib Quzwain. Acara yang menghadirkan pembicara Dr. Jamaluddin, M.Pd.I, tersebut bertemakan “Vitalisasi Tradisi Keilmuan Islam Menuju Peradaban Baru” menjelaskan, bahwa Islam pernah mencapai masa keemasan (golden age) hampir tujuh abad lamanya, dimulai dari tahun 750 – 1500 M.
Ketika itu, muncul ratusan ilmuwan muslim yang mengilhami munculnya renaissance di Eropa. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari tradisi keilmuan Islam yang didasarkan pada nilai Tauhid yang mengakar, tetapi sejak beralihnya supremasi keilmuan ke negara-negara Barat, praktis dunia Islam belum mampu keluar dari keterpurukan khususnya aspek ilmu pengetahuan. Ada lima permasalahan fundamental yang melingkupi pendidikan Islam. 1. Disorientasi makna Filosofis Iqra’ Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi SAW adalah Iqra’, dalam banyak tafsir bermakna membaca ayat-ayat qauliyah, ayat-ayat kauniyah, termasuk melakukan observasi ilmiah terhadap alam. Tradisi Iqra’ tidak lagi menjadi tradisi mayoritas di lembaga pendidikan Islam. M. Abduh pernah menyatakan “ saya melihat Islam tanpa melihat muslim di Perancis, tetapi saya melihat muslim tanpa melihat Islam di Mesir” 2. Symptom Dikotomi Pendidikan Islam sering hanya dipahami sebagai pemindahan pengetahuan dan nilai-nilai ajaran Islam yang tertuang dalam teks-teks agama, sedangkan ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam dianggap pengetahuan yang umum (sekular). Islam tidak pernah memisahkan tanpa saling terkait (dikotomi) antara ilmu agama dan ilmu umum. 3. Menipisnya Semangat Meneliti (Spirit of Inquary) Hilangnya semangat membaca dan meneliti yang dulu menjadi supremasi utama dunia pendidikan Islam pada masa klasik, sehingga tidak mengejutkan, jika angka buta huruf di dunia Islam masih tinggi, menurut laporan UNESCO lebih kurang 61 % penderita buta huruf berasal dari negara-negara mayoritas muslim. Konsekuensi dari lemahnya tradisi meneliti adalah bahwa pemecahan persoalan-persoalan baik politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan tidak didasarkan pada hasil penelitian, tetapi berdasarkan pada asumsi-asumsi yang tidak dapat dipertanggungjawabankan keshahihannya secara ilmiah. 4. Certificate oriented and too general knowledge Orientasi sertifikat dalam kaitan ini merupakan orientasi pendidikan hanya untuk meraih selembar kertas, untuk memperoleh pekerjaan. Disisi lain pemerintah melalui program sertifikasi guru dan dosen memaksa para guru untuk berlomba meraih sertifikat sebagai syarat untuk memperoleh penghasilan tambahan. 5. Dominasi tradisi menghafal Dominasi tradisi menghafal dalam pendidikan Islam mengalahkan tradisi diskusi, dialogis, rihlah. Ironisnya penghafalan termasuk dalam proses belajar filsafat dan beberapa pelajaran yang membutuhkan penalaran. Kelima permasalahan tersebut berimplikasi terhadap lahirnya tradisi yang tidak mendukung tradisi akademik pada Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Menyikapi kondisi terpuruknya Pendidikan Tinggi Islam di tengah hegemoni Barat, maka adalah pilihan sejarah untuk melakukan rekonstruksi dan vitalisasi tradisi keilmuan Islam yang meliputi : 1. Retradisi Filosofi Iqra’ 2. Menumbuhkan tradisi Rihla dan semangat meneliti 3. Integrasi ilmu 4. Reorientasi metodologi Vitalisasi keilmuan Islam adalah pilihan sejarah bagi perguruan tinggi Islam guna melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya ahli pada bidang tertentu, tetapi juga memiliki integrasi moral dan akar teologis yang kuat. Ketua Panitia Dr. H. Hadri Hasan, MA, dalam kesempatan ini menjelaskan jumlah seluruh mahasiswa baru yang telah mendaftar ulang dan mengikuti kegiatan Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK) tahun 2011, sebanyak 1.160 mahasiswa. lebih lanjut Beliau mengatakan “apa yang ditakdirkan untuk kita saat ini, itulah yang terbaik untuk kita”, sehingga kita harus banyak bersyukur kepada Allah SWT. Rektor IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, mengucapkan Selamat datang dan bergabung di Kampus Biru kepada mahasiswa Baru. Mengapa IAIN STS disebut kampus biru? Warna biru identik dengan smart, intelegent, terbuka dalam hal ilmu pengetahuan, sehingga diharapkan ketika mahasiswa diwisuda telah merubah indikator intelegent mahasiswa. untuk saat ini, mahasiswa harus mampu berfikir secara ilmiah dan ada hukum sebab akibat. Kembangkan ruang ilmu, karena peluang masuk pasar publik tidak mutlak yang paling banyak dibutuhkan berasal dari Fakultas Tarbiyah, hanya karena terlihat dari peminatnya yang paling banyak dibandingkan dengan Fakultas-fakultas lain di lingkungan IAIN STS Jambi. Perguruan Tinggi menghantarkan mahasiswa kepada kematangan akademik dan dapat menyakinkan mahasiswa untuk menjadi seorang ahli, sehingga saat keluar dari IAIN dapat menjadi seorang ahli, tetapi juga jangan menjadi terlalu superior (terlalu percaya diri) atau inferiority complex (terlalu rendah diri). lebih lanjut Rektor menyarankan, agar mahasiswa jangan berfikir hanya Jambi tanah kita, berkompetensilah di kota-kota besar di Indonesia, atau bahkan ke luar negeri, hal ini dapat diperoleh dengan ilmu dan peningkatan kemampuan bahasa. Isi waktu dengan belajar dan belajar, sebab kalau pintar tidak akan pernah sengsara.
|